PERUNDUNGAN


20 Desember 2021

Mencegah Perundungan di Sekolah

 

Sampai saat ini, perundungan menjadi masalah serius di sekolah. Menurut PISA (2018) terdapat sekitar 41 persen murid berusia 15 tahun di Indonesia yang mengalami perundungan di sekolah. Ada beragam bentuk perundungan yang dialami oleh anak-anak. Seperti fisik, verbal, relasional, seksual, dan cyber bullying. Dampak negatif dari perundungan sangat besar bagi perkembangan fisik, mental, dan kesejahteraan anak.

Perundungan adalah segala bentuk perilaku intimidasi atau penindasan dari satu individu atau kelompok yang lebih kuat dan dilakukan secara berulang-ulang. Karena itu, diperlukan keterlibatan guru, murid, orangtua, dan masyarakat untuk turut mencegah kekerasan dan perundungan di sekolah.

Seperti yang dilakukan oleh Pusat Penguatan Karakter (puspeka), Kemendikbud Ristek dengan melakukan Bimbingan Teknis Program Anti Perundungan Bagi Fasilitator Ekosistem Pendidikan Jenjang SMK Angkatan VI. Kegiatan ini merupakan implementasi dari program Roots Indonesia (anti perundungan) yang diselenggarakan secara virtual menggunakan zoom meeting pada tanggal 30 Agustus -1 September 2021. Ada 337 guru sebagai peserta dari berbagai SMK Pusat Keunggulan di seluruh Indonesia.

Peserta dibagi dalam 12 kelompok dengan 50-60 peserta dan didampingi oleh fasilitator nasional. Kegiatan dirancang sangat menarik karena menggunakan berbagai pendekatan, seperti diskusi dan role play. Ada 15 modul yang dipelajari dengan menggunakan berbagai media, e-course, zoom meeting, flashcard, power point, dan aplikasi media sosial seperti instagram, tik tok, facebook, dan youtube.

Narasumber kegiatan berasal dari berbagai unsur. Ada dari Puspeka, Fasilitator Nasional Roots, UNICEF dan Mitra, Tim Direktorat SMP, SMA, dan SMK, serta Tim Staf Khusus Menteri Bidang Kompetensi dan Manajemen. Di antara fasilitator nasional adalah Candra Padmasyasti, Wiwik Yulihaningsih, Nova Herlina, Teguh Apriyanto, dan Dedi Setiawan.

 

Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim dalam arahannya saat pembukaan menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan. Program Roots Indonesia merupakan kerjasama Kemendikbud Ristek dengan UNICEF sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas mencegah dan menangani perundungan di lingkungan sekolah. Karena itu, perlu komitmen bersama dari berbagai pihak dalam upaya pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.

Lebih lanjut Kepala Puspeka Hendarman menyatakan ada tantangan perundungan yang berbeda antara jenjang SD, SMP, dan SMK. Oleh sebab itu, bimbingan teknis ini akan membekali fasilitator dengan berbagai pengetahuan untuk disampaikan kepada murid selaku agen perubahan di sekolah. Para peserta dapat berdiskusi dan saling berbagai pengetahuan dan pengalaman sehingga memiliki persepsi yang sama.

Tindak lanjut dari kegiatan bimtek ini adalah pelaksanaan program roots Indonesia selama 10-15 sesi yang melibatkan 30 murid di setiap sekolah sebagai agen perubahan. Harapannya melalui kegiatan Roots Indonesia dapat mengurangi secara signifikan kasus perundungan yang ada di sekolah.

 

Penulis adalah guru di SMKN 1 Sidoarjo

Nama                         : Abdul Majid Hariadi

Alamat Sekolah      : Jl. Monginsidi Telp. 8965636 Sidoarjo 61218

 


Sumber : SMK Negeri 1 Sidoarjo https://smkn1sidoarjo.sch.id/
Selengkapnya : https://smkn1sidoarjo.sch.id//artikel/400/PERUNDUNGAN.html